Welcome To My Blog And My Life. Stay Tune!:]

Sabtu, 07 Desember 2013

Aku Bodoh!

Tak ada lagi kamu yg memenuhi kotak inbox di handphone-ku. Tak ada lagi genggaman tanganmu yg menguatkan setiap langkahku. Tak ada lagi pelukanmu yg meredam segala kecemasan. Tanpamu.. Semua tak lagi sama.

Aku membuka mata dan berharap hari-hariku berjalan seperti biasanya,walau tanpamu, walau tak ada kamu yg memenuhi hari-hariku. Seringkali aku terbiasa melirik ke layar handphone, namun tak ada lagi ucapan selamat pagi darimu dengan beberapa kiss yang memasok energiku. Hari yang berbeda. Ada sesuatu yang hilang.

Lalu, aku menjalani semua aktivitasku, seperti biasa, kamu tentu tahu itu. Dulu,kamu memang selalu mengerti kegiatan dan rutinitasku. Namun, sekarang tak ada lagi kamu yang berperan aktif dalam siang dan malamku. Tak ada lagi yang mengingatkan untuk menjaga pola makan ataupun menjaga kesehatan. Bukan masalah besar memang, aku mandiri dan sangat tahu hal-hal yg harusnya aku lakukan. Tapi.. kamu tentu tahu, tak mudah mengikhlaskan perpisahan. 

Aku bisa berhenti mempercayai cinta jika terlalu sering tenggelam dalam rasa frustasi seperti ini. Aku mungkin akan berhenti mempercayai lawan jenis dan janji-janji tololnya. Siksaanmu terlalu besar untukku, aku terlalu lemah untuk merasakan semua rasa sakit yg telah kau sebabkan. 

Aku benci pada perpisahan. 

Aku menangis sejadi-jadinya, sedalam-dalamnya, atas dasar cinta. Aku merasa sangat kehilangan.

Tak banyak hal yg bisa kulakukan,selain mengikhlaskan. Tak ada hal yg mampu kuperjuangkan, selain membiarkanmu pergi dan tak berharap kamu menorehkan luka lagi. 
Aku hanya berusaha menikmati luka, hingga aku terbiasa dan akan menganggapnya tak ada. Kepergianmu yg tak beralasan, kehilangan yg begitu menyakitkan, telah menjadi candu yg kunikmati sakitnya.

Aku mulai suka airmata yg seringkali jatuh untukmu. Aku mulai menikmati saat-saat napasku sesak ketika mengingatmu. Aku mulai jatuh cinta pada rasa sakit yg kauciptakan selama ini.

Terima kasih.

Dengan luka seperti ini. Dengan rasa sakit sedalam ini.

Jumat, 06 Desember 2013

Kepergian Kamu

Ini tulisan yang entah keberapa. Tulisan bodoh dari gadis tolol yang tak pernah kaugubris sama sekali. Tulisan di sini tentu saja tak pernah kaubaca, kaulihat, apalagi kaupahami. Di sini, ada seseorang yang setia menulis tentangmu meskipun setiap mengingatmu hatinya selalu teriris.

Kali ini, aku ingin bercerita tentang seorang wanita yang sedang sangat sibuk untuk melakukan banyak hal. Berusaha mencari kesibukan baru agar dia tak lagi punya celah untuk mengingatmu. Wanita ini, tentu saja kaupernah mengenalnya. Dia pernah jadi bagian dalam hari-harimu meskipun hanya sesaat. Lucu, ya, betapa pertemuan sesingkat itu bahkan bisa melekat selama ini. Wanita ini adalah tempat kausempat berbagi tawa dan canda, sebelum akhirnya kaumembuat dia terluka.
Ini masih awal cerita, sekarang dia sudah jadi wanita yang berbeda. Tiga minggu setelah kepergian kamu, dia berusaha untuk melepaskan kamu dari hati dan ingatannya. Wanita ini berjuang sangat keras. Dia mencari teman curhat, mencari orang-orang yang senasib dengannya, dan berkenalan dengan sosok-sosok baru. Hingga pada akhirnya dia tahu, bagaimana dirimu yang sekarang.
Iya, dia tahu bagaimana dirimu, Sayang. Wanita itu tahu topeng yang selalu kaugunakan. Dia mencari orang-orang yang sangat dekat denganmu. Teka-teki itu terjawab, penyakitmu memang sama; seringkali meninggalkan wanita saat wanita itu sedang berada dalam posisi sangat tidak ingin kehilangan kamu.
Tapi, kembali ke bagian awal. Dia wanita bodoh, perempuan tolol yang mau-maunya kaujadikan pelarian, bukan tujuan. Bahkan, ketika dia tahu semua kebohonganmu, dia sama sekali tak ingin membencimu. Dalam rasa sakitnya, dia seringkali bertemu Tuhan. Bercerita dengan bulir air mata di pipinya. Mengadu dengan bibir membeku; dia menyesali segala kebodohannya. Mengapa dia menyayangimu kamu begitu tulus namun melepaskanmu begitu susah?
Sayang, wanita itu tahu sekarang kamu sudah lebih bahagia. Dari dunia seratusempatpuluh karakter, dia bisa menduga; bahwa kamu sudah jadi pria yang berbeda. Kamu bukan lagi matahari yang menghangatkan mendungnya. Kamu bukan lagi lembayung yang mewarnai sisi gelapnya. Kamu sekarang jadi awan hitam, Sayang. Kamu jadi biru paling kelabu, sebab air matanya tak pernah surut– selalu mengalir untukmu.
Kali ini, ceritanya masih sama. Ada rasa rindu di dadanya, ada rasa hampa karena kekosongan yang selama ini dia lewati tanpamu. Kadang, kamu tak tahu perasaan seseorang yang begitu bahagia bisa berbicara denganmu, meskipun kamu mengartikan pembicaraan itu hanyalah pembicaraan biasa. Tapi, wanita ini berbeda. Segala hal tentangmu, tak pernah kecil di matanya.




Cahaya Penunjukku. Waktu menulis ini, wanita yang kuceritakan tadi sudah tak lagi bisa menulis banyak tentangmu. Tepat tiga setelah kepergian kamu, ternyata dia sadar bahwa ada yang perlu diperjuangkan, selain rasa rindunya terhadapmu. Kamu yang begitu berbeda telah begitu menyakiti hatinya. Mengapa kamu tak tahu, Sayang? Bahwa orang yang paling tersakiti oleh perubahanmu adalah orang yang paling mencintaimu, meskipun kamu selalu menganggap dia tidak ada.


Malam ini, sepertinya masih sama. Wanita itu ingat betapa setiap malam, kamu selalu menyapa dia dengan sapaan paling manis lewat bbm. Dia bahkan tak tahu mengapa dia harus mencintai pria berantakan seperti kamu. Cintanya meledak begitu saja, ketika kaubuat dia nyaman, ketika kaubuat dia begitu mencintaimu, mengapa kaumalah membiarkan dia menggigil karena kepergianmu?

Dengan bekas lukanya yang belum benar-benar sembuh. Dia masih berusaha terus melupakanmu, dia berusaha melangkah dengan kekuatan sendiri. Kamu tak tahu, Sayang, dia begitu kuat, lebih kuat daripada yang kaubayangkan. Memang, dia belum seratus persen melupakanmu. Tapi, dia percaya waktu itu akan datang, saat dia bebas menertawakan lukanya dan kamu justru yang berbalik menangisinya.

Oke, sudah hampir dua belas peragraf. Wanita ini cuma mau bilang padamu, Cahaya Penujukku, bahwa sebenarnya dia belum bisa melupakanmu. Sebenarnya juga, masih ada cinta dalam hatinya. Tapi, dia berusaha tak lagi menggubris perasaannya sendiri, karena dia tahu; kamu yang seperti dulu tak akan pernah kembali.

Oh, iya, kamu mau tahu, ya, siapa wanita itu? Baiklah. Aku menyerah. Wanita itu adalah...AKU!