Ini tulisan yang entah keberapa. Tulisan bodoh
dari gadis tolol yang tak pernah kaugubris sama sekali. Tulisan di sini tentu
saja tak pernah kaubaca, kaulihat, apalagi kaupahami. Di sini, ada seseorang
yang setia menulis tentangmu meskipun setiap mengingatmu hatinya selalu
teriris.
Kali ini, aku ingin bercerita tentang seorang
wanita yang sedang sangat sibuk untuk melakukan banyak hal. Berusaha mencari
kesibukan baru agar dia tak lagi punya celah untuk mengingatmu. Wanita ini,
tentu saja kaupernah mengenalnya. Dia pernah jadi bagian dalam hari-harimu
meskipun hanya sesaat. Lucu, ya, betapa pertemuan sesingkat itu bahkan bisa
melekat selama ini. Wanita ini adalah tempat kausempat berbagi tawa dan canda,
sebelum akhirnya kaumembuat dia terluka.
Ini masih awal cerita, sekarang dia sudah jadi
wanita yang berbeda. Tiga minggu setelah kepergian kamu, dia berusaha untuk
melepaskan kamu dari hati dan ingatannya. Wanita ini berjuang sangat keras. Dia
mencari teman curhat, mencari orang-orang yang senasib dengannya, dan
berkenalan dengan sosok-sosok baru. Hingga pada akhirnya dia tahu, bagaimana
dirimu yang sekarang.
Iya, dia tahu
bagaimana dirimu, Sayang. Wanita itu tahu topeng yang selalu kaugunakan. Dia
mencari orang-orang yang sangat dekat denganmu. Teka-teki itu terjawab,
penyakitmu memang sama; seringkali meninggalkan wanita saat wanita itu sedang
berada dalam posisi sangat tidak ingin kehilangan kamu.
Tapi, kembali ke bagian awal. Dia wanita
bodoh, perempuan tolol yang mau-maunya kaujadikan pelarian, bukan tujuan.
Bahkan, ketika dia tahu semua kebohonganmu, dia sama sekali tak ingin
membencimu. Dalam rasa sakitnya, dia seringkali bertemu Tuhan. Bercerita dengan
bulir air mata di pipinya. Mengadu dengan bibir membeku; dia menyesali segala kebodohannya.
Mengapa dia menyayangimu kamu begitu tulus namun melepaskanmu begitu susah?
Sayang, wanita itu tahu sekarang kamu sudah
lebih bahagia. Dari dunia seratusempatpuluh karakter, dia bisa menduga; bahwa
kamu sudah jadi pria yang berbeda. Kamu bukan lagi matahari yang menghangatkan
mendungnya. Kamu bukan lagi lembayung yang mewarnai sisi gelapnya. Kamu
sekarang jadi awan hitam, Sayang. Kamu jadi biru paling kelabu, sebab air
matanya tak pernah surut– selalu mengalir untukmu.
Kali ini, ceritanya masih sama. Ada rasa rindu
di dadanya, ada rasa hampa karena kekosongan yang selama ini dia lewati
tanpamu. Kadang, kamu tak tahu perasaan seseorang yang begitu bahagia bisa
berbicara denganmu, meskipun kamu mengartikan pembicaraan itu hanyalah
pembicaraan biasa. Tapi, wanita ini berbeda. Segala hal tentangmu, tak pernah
kecil di matanya.
Cahaya Penunjukku. Waktu menulis ini, wanita
yang kuceritakan tadi sudah tak lagi bisa menulis banyak tentangmu. Tepat tiga
setelah kepergian kamu, ternyata dia sadar bahwa ada yang perlu diperjuangkan,
selain rasa rindunya terhadapmu. Kamu yang begitu berbeda telah begitu
menyakiti hatinya. Mengapa kamu tak tahu, Sayang? Bahwa orang yang paling
tersakiti oleh perubahanmu adalah orang yang paling mencintaimu, meskipun kamu
selalu menganggap dia tidak ada.
Malam ini, sepertinya masih sama. Wanita itu
ingat betapa setiap malam, kamu selalu menyapa dia dengan sapaan paling manis
lewat bbm. Dia bahkan tak tahu mengapa dia harus mencintai pria berantakan
seperti kamu. Cintanya meledak begitu saja, ketika kaubuat dia nyaman, ketika
kaubuat dia begitu mencintaimu, mengapa kaumalah membiarkan dia menggigil
karena kepergianmu?
Dengan bekas lukanya yang belum benar-benar
sembuh. Dia masih berusaha terus melupakanmu, dia berusaha melangkah dengan
kekuatan sendiri. Kamu tak tahu, Sayang, dia begitu kuat, lebih kuat daripada
yang kaubayangkan. Memang, dia belum seratus persen melupakanmu. Tapi, dia
percaya waktu itu akan datang, saat dia bebas menertawakan lukanya dan kamu
justru yang berbalik menangisinya.
Oke, sudah hampir dua belas peragraf. Wanita
ini cuma mau bilang padamu, Cahaya Penujukku, bahwa sebenarnya dia belum bisa
melupakanmu. Sebenarnya juga, masih ada cinta dalam hatinya. Tapi, dia berusaha
tak lagi menggubris perasaannya sendiri, karena dia tahu; kamu yang seperti
dulu tak akan pernah kembali.
Oh, iya, kamu mau tahu, ya, siapa wanita itu?
Baiklah. Aku menyerah. Wanita itu adalah...AKU!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar